The Hallway Space Membawa Kosambi untuk Penggiat Industri Kreatif Bandung

Penggiat Industri Kreatif Bandung

Simak cerita inspiratif dari Rilly Robbi, founder dari the Hallway Space yang membawa kosambi untuk penggiat industri kreatif Bandung. 

Apa yang pertama kali muncul dibenakmu ketika mendengar kata pasar? Mungkin yang pertama terbayang adalah lokasi yang becek dan berbagai penjual yang menggelar lapak disana. Lalu, bagaimana ketika tahu ada tempat nongkrong baru di pasar? Ya, lokasinya di Pasar Kosambi Bandung. 

Namanya The Hallway Space. Memanfaatkan lantai dua pasar kosambi yang sudah hampir 20 tahun tidak digunakan. Dahulu kala di era 80-an, pasar ini memang berjaya sebagai pusat hiburan Bandung. Namun, seiring berjalannya waktu, bioskop dan pertunjukan tradisional disini mulai tutup karena tren industri film mulai melebar di Indonesia. 

Di tahun 2017, Rilly Robby, founder The Hallway Space memanfaatkan lantai dua kosambi untuk memproduksi sepatu lokal yang ia jual secara online. Saat itu, ia menyadari bahwa kosambi sepi dan hanya ramai di satu bulan dalam setahun. Kesan dari pasar mulai hilang karena pembeli yang datang sedikit. Meski bisnis yang ia jalani online dan tidak berpengaruh dengan trafik pasar. Hingga akhirnya, ia berpikir bagaimana bisa memberikan trafik yang cukup besar dari pasar ini. Lantai dua kosambi cukup besar dan bisa muat digunakan untuk 400-500 toko. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memberi gebrakan baru di jantung kota Bandung ini. 

Hingga akhirnya, di awal renovasi yaitu bulan April 2019, Robbi dan beberapa temannya memutuskan untuk memperbaiki lantai dua kosambi. Saat itu mereka masih bergerak secara mandiri dengan mengandalkan teman-teman yang ingin membuka toko disana. Mulai dari mengangkat batu bata, semen dan lainnya masih dilakukan sendiri. Alasannya karena terkendala budget, namun mereka optimis untuk membuat perubahan. 

Namun, peristiwa memprihatinkan sempat terjadi ketika mereka sedang semangatnya memperbaiki pasar ini. Di pertengahan tahun 2019, kosambi mengalami peristiwa kebakaran. Lantai dua pun terkena dampaknya. Asap akibat kebakaran membuat proses pengerjaan terhambat terutama dinding yang baru saja di cat. Akhirnya mereka menunggu hingga tiga bulan sampai mendapat rekomendasi bahwa gedungnya kembali layak digunakan. Karena biasanya, kebakaran membuat konstruksi bangunan menjadi berubah. November dan Desember akhirnya mereka kembali memulai pengerjaan dan berhasil membuka 20 toko. 

Tak sampai disitu, pengerjaan tahap dua ternyata mengalami kendala. Pandemi membatasi ruang gerak mereka. Hingga akhirnya projek kembali diberhentikan sementara sampai PSBB selesai. Mereka tetap optimis bahwa keadaan ini akan berakhir dan tetap semangat untuk menjalani pembangunan. Hingga akhirnya setelah lebaran, mereka berhasil menyelesaikan pembangunan dan membuka 70 toko. Bahkan, optimisme mereka membuahkan hasil. Banyak pihak yang mendukung adanya The Hallway Space termasuk Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana yang menghadiri soft launching dari tempat nongkrong baru ini. 

Bagaimana cara The Hallway bekerjasama dengan para Penggiat Industri Kreatif Bandung? 

Semua berawal dari ajakan ke teman-teman terdekat untuk bergabung. Sampel ini nantinya menjadi tolak ukur tenant lain untuk bergabung. Meski awalnya para tenant masih merasa ragu karena lokasinya yang gelap dan sudah 20 tahun tidak terpakai. Namun, seiring berjalannya waktu, bentuk The Hallway Space pun mulai terlihat hingga menarik pelanggannya. Akhirnya, banyak yang mau bergabung. Kuncinya ketika orang sudah memberi opportunity, mereka harus bisa membangun kepercayaan dan tidak mengecewakan pelanggan. Hingga akhirnya bangunan lama ini disulap menjadi bangunan masa kini. 

Secara garis besar, The Hallway Space menawarkan hub kreatif Bandung melalui jualan. Tenant yang tersedia, mulai dari : bidang fashion, food & beverage, hobies, lifestyle, barbershop, hingga foto studio. Kedepannya, mereka akan memperluas lagi dengan membuat public space seperti pameran, pop up market, fashion show, dan lainnya. 

Baca juga : Strategi Bisnis Kuliner Hadapi Resesi

Selama pandemi ini, tidak banyak yang bisa Robbi dan teman-temannya lakukan untuk mempromosikan tempatnya. Mereka masih mengandalkan WOM (Word of Mouth) dan Experience. Berbicara tentang WOM, saat ini sudah tergabung beberapa komunitas dan ada Influencer dengan massa yang luas yang menjadi tenantnya. Sedangkan dengan experience tempat, mereka membuat kosambi di malam hari yang gelap. Dan ketika masuk ke Hallway ternyata ada sebuah kehidupan di dalamnya. Dekorasi pun menjadi hal penting dimana era digital ini, konsumen yang merasa senang akan mengabadikan momen di IG Story dan dilihat oleh khalayak luas. 

Baca juga : Kolaborasi Bisnis Penting Banget, Lho! Cari Tahu Caranya

Itulah cerita tentang The Hallway Space yang membawa Kosambi untuk Penggiat Industri Kreatif Bandung. Kuncinya adalah terus berinovasi dan tidak mudah menyerah ya. Karena kesuksesan akan selalu membuahkan hasil. Jangan lupa untuk ikuti informasi terbaru di blog kami dan gunakan aplikasi kasir POST. untuk melengkapi kegiatan bisnismu.

  • Share

Artikel Terkait

online 24 jam Whatsapp Chat